Golongan LGBT Lebih Rentan Mengalam Migrain, Kenapa Ya?

Golongan LGBT Lebih Rentan Mengalam Migrain, Kenapa Ya?
September 29, 2020 Mark Flores 0 Comments

–>

Suara. com – Migrain ialah salah satu penyakit umum yang dialami banyak orang. Sakit kepala yang melemahkan ini tidak cuma menyebabkan mual, tetapi juga menghasilkan Anda sangat sulit untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari.

Meski alasan pasti kok migrain terjadi masih belum terlihat, sebuah penelitian Amerika menyatakan bahwa anggota komunitas LGBT + mungkin lebih rentan terhadap sakit besar ini.

Dilansir dari Healthshots, orientasi seksual Anda bisa menjadi faktor risiko migrain, menurut sebuah studi oleh University of California – San Francisco (UCSF), yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association Neurology.

Survei tersebut menemukan bahwa dekat sepertiga peserta lesbian, gay dan biseksual (LGB) mengalami migrain — 58 persen lebih banyak daripada peserta heteroseksual.

Ilustrasi migrain. (Shutterstock)

Para peneliti mengatakan, meski penelitian itu menunjukkan bahwa orang LGB berisiko lebih besar terkena migrain, mereka tidak dapat menunjukkan alasannya.

“Mungkin ada tingkat migrain yang lebih tinggi pada orang LGB karena segregasi, stigma atau prasangka, yang dapat menyebabkan stres dan memicu migrain, ” kata ketua penulis belajar tersebut Dr. Jason Nagata, asisten profesor pediatri di UCSF.  

“Dokter harus menyadari bahwa migrain cukup umum terjadi pada individu LGB dan menilai gejala migrainnya, ” kata Nagata.

Migrain dapat melumpuhkan dan membuahkan pekerjaan yang tidak terjawab dan seringnya mengunjungi dokter.

Penelitian lain menunjukkan disparitas dalam prevalensi migrain patuh jenis kelamin, etnis, dan posisi sosial ekonomi.

Tidak hanya penyebab migrain yang masih belum jelas, tetapi para peneliti juga tidak mempunyai jawaban tentang rangkaian pengobatan efektif yang melampaui obat penghilang menemui sakit.