Interpretasi Akan Kerak Bumi Barangkali Dasar Upaya Mitigasi Petaka

pemahaman-akan-kerak-bumi-bisa-jadi-dasar-upaya-mitigasi-bencana-1
September 1, 2021 Mark Flores 0 Comments

Pandangan. com – Profesor Riset Haryadi Permana yang juga peneliti tempat geologi di Lembaga Menimba Pengetahuan Indonesia (LIPI) mengutarakan pemahaman dan pengetahuan pokok kerak bumi dapat dijadikan sebagai bahan dalam memajukan upaya mitigasi bencana.

“Pergerakan kerak samudra masih berlaku sampai saat ini. Pertemuan antarlempeng membentuk jalur gempa bumi dan jalur gunung-gunung api aktif. Hal tersebut digunakan sebagai identifikasi potensi bencana tsunami di sepadan daerah, ” kata Haryadi saat menyampaikan orasi ilmiah dalam acara Pengukuhan Guru besar Riset yang diadakan LIPI di Jakarta, Rabu.

Dari pembentukan kolom gempa bumi dan rel gunung-gunung api aktif tersebut, dapat diperoleh informasi penting dalam mengupayakan langkah pengurangan risiko atau mitigasi kesengsaraan khususnya terhadap potensi gempa dan tsunami.

Haryadi memberikan orasi ilmiah Profesor Risetnya dengan judul “Pemanfaatan Hasil Riset Kepingan Kerak Besar Purba dalam Perspektif Semangat Kerak Bumi Aktual”.

Baca Juga: LIPI Penelitian Baterai Lithium untuk Organ Listrik

Kepingan kerak samudra purba terbentuk dalam lingkungan tektonik yang beraneka macam dengan rentang waktu sempurna kerak samudra mulai daripada Zaman Mesosoik, Masa Jura (190–155 juta tahun lalu), Masa Kapur (145–62 juta tahun lalu), Sub-Masa Paleogen, yaitu pada Kala Eosen (55–33 juta tahun lalu), Kala Oligosen (27 juta tahun lalu), sampai memutar muda, yaitu Kala Miosen (20–9 juta tahun lalu).

Kepingan kerak samudra, umumnya disebut ofiolit (ophiolite), merupakan bagian dari litosfer bumi yang permukaanya berada di cekungan samudra dan utamanya terbentuk karena Punggungan Pusat Samudra.

Haryadi mengatakan selain diakibatkan oleh gempa bumi di dasar laut, tsunami juga dapat ditimbulkan oleh longsoran bawah laut.

Potensi tersebut teridentifikasi di perairan Mentawai di mana longsoran bawah bahar dapat memicu tsunami lokal yang dapat mengancam Praja Padang.

Untuk kegiatan mitigasi bencana dalam mengantisipasi objek bencana, dilakukan penelitian kebencanaan sepanjang busur Sumatera serta kegiatan pendidikan kesiapsiagaan bangsa menghadapi bencana gempa dan tsunami secara mandiri.

Baca Selalu: LIPI Hendak Teliti Jejak COVID-19 pada Limbah Rumah Tangga

Pelatihan-pelatihan kesiapsiagaan terutama di daerah rawan tsunami (tsunami prone) seperti pelatihan evakuasi dijadikan bahan dalam menyusun standar nasional Indonesia (SNI) melalui Komisi Teknis Kebencanaan 13-08 di bawah penyelarasan Bandar Standardisasi Nasional (BSN), Badan Nasional Penanggulangan Kematian dan Kementerian Riset & Teknologi.