Kadar Rupiah di Makam Sunan Giri yang Makin Terhimpit di Sedang Pandemi

Kadar Rupiah di Makam Sunan Giri yang Makin Terhimpit di Sedang Pandemi
May 8, 2020 Mark Flores 0 Comments

–>

SuaraJatim. id – Sejak wisata religi makam Sunan Giri dalam Kecamatan Kebomas, Gresik ditutup pada 17 Maret 2020 lalu, penerimaan para pedagang kaki lima (PKL) di area makam ini menurun drastis.

Banyak para PKL memilih menyumbat lapaknya karena tak mampu berdiam dengan sepinya pengunjung.

Meski begitu, masih ada beberapa pedagang yang langgeng membuka lapaknya. Salah satunya merupakan Ubid (35), yang sehari-hari berdagang aksesoris dan songkok. Ubid tetap membuka lapaknya karena tidak bisa mencari sumber rezeki lain.

“Sejak munculnya Virus Corona, area makam ditutup. Dampaknya tidak ada pengunjung, komoditas saya tidak laku, ” logat Ubid saat ditemui di zona Makam Sunan Giri pada Jumat (8/5/2020).

Bahkan selama Ramadan, ia pernah dalam satu hari hanya memperoleh uang Rp 5 ribu sekadar. Hal itu tidak pernah terduga sebelumnya. Apalagi, jika dibandingkan di dalam Ramadan sebelumnya, ia bisa memetik penghasilan hingga Rp 1 juta dalam sehari.

Jika kondisi terus demikian ini, Ubid tidak yakin bisa menutup kebutuhannya dan keluarganya setiap keadaan. Sebab, ia mesti merawat karakter tuanya yang sudah lanjut leler. Semua kebutuhan rumah, mulai elektrik dan air diambilkan dari buatan toko.

“HP saya sampai kejual untuk nyambung bayar arisan, mau dicarikan uang dari mana? Penghasilan gardu sedang sepi, ” katanya.

Ubid tidak sendiri, seorang pedagang lain yang bernasib sama dengannya adalah Rupiah. Pedagang nasi rawon di kawasan Wisata Sunan Giri ini mengaku, sejak terjadinya pandemi Covid-19 membuat penghasilannya merosot tajam. Jika hari-hari normal, perempuan berusia 50 tahun ini bisa meraup omzet hingga Rp 1 juta per hari.

“Pengunjung sepi saya pilih tutup lapak, tersebut pun kalau ditutup saya serupa malah tidak mendapat penghasilan apa-apa. Bantuan tidak ada, pengeluaran pasti ada, ” jelasnya.

Untuk menyambung hidup, Rupiah tetap berdagang. Namun yang berbeda, jika sebelumnya ia mampu menjual langsung dagangannya di wilayah makam Sunan Giri.

Kali ini, ia menjual makanan dengan mengirimkan ke warung-warung. Itu pun hasilnya tak seberapa. Kadang nasi yang tidak laku dijual harus dibawa kembali.

Karena ini termasuk pekerjaan baru, Rupiah tidak berani menjual nasi berjumlah banyak. Setiap hari ia cuma bisa memproduksi 100 nasi bungkus yang dititipkan ke tiga lepau. Satu bungkus dibandrol seharga Rp 10 ribu.

“Kadang terjual habis, kadang hanya terjual 70 nasi bungkus. Mending untuk menyambung hidup, ” pungkasnya.

Kontributor: Mengabulkan Alamsyah